Minggu, 26 Januari 2014

menanti pindah.

"Kau masih bersama dia?"
Tanyaku pada lelaki yang sedang duduk di hadapanku. Kita mengobrol kecil di kantin kampus, menunggu jam kuliahnya. Sedangkan diriku telah lebih dulu selesai. Kita berbeda kelas.
Ia meneguk sebuah iced moccacinonya.
"Iya." Lalu jawabnya. Begitu singkat.
Aku telah lelah bertanya dalam hati, mengapa dia begitu keras mempertahankan hubungannya. Sedangkan aku yang sekarang ini mulai mengaguminya ikut mencari tahu tanpa sepengetahuannya.
Dasar lelaki bodoh.
Yang ada di depanmu ini menantimu pindah. Tapi kau tetap dengan pilihan bodohmu!
aku mempunyai jiwa ingin tahu yang tinggi, aku lelah dengan sikapnya yang terlalu keras kepala.
Menanti seseorang yang sebenarnya ingin pindah.
Kekasihnya, sepengetahuanku bertekad ingin pindah.
Tapi tidak dengannya.
"Tak mungkin aku melepasnya. Kita berjalan sudah bertahun-tahun." Katanya.
Aku tak terlalu banyak komentar, biarkan dia mengeluh sesukanya. Posisi yang aku alami ini tak memungkinkanku untuk berkomentar.
Aku hanya takut salah, juga takut karena dia akan menyangkaku menyukainya.
Aku (memilih) menyukainya secara diam-diam.
"Move on, beb. Masih banyak yang lebih baik di luar sana." Kataku.
Dia tidak merespon perkataanku. Terlihat dari raut wajahnya dia begitu tak terurus. Memang, seharusnya kau memilih pindah daripada tetap tinggal di rumah yang membuatmu sudah tak nyaman lagi.
Aku telah bertekad untuk pindah sejak dia pergi dan tak pernah kembali lagi. Telah lama penantian itu, dan aku memilih pindah ke lelaki ini. Lelaki yang begitu takut untuk pindah.
Seandainya saja dia tahu, aku bisa menjadi rumah yang nyaman baginya.
"Eh, udah jam 1 nih. Aku masuk kelas, dosenku barusan lewat." Katanya.
"Iya. See you."
"Bye, take care ya."
Lalu dia berlari menuju kelasnya, meninggalkanku dengan secangkir moccacino yang tak tersentuh sedikitpun.
Ijinkan aku merawat lukamu yang bertahun-tahun itu, tuan. Aku siap menjadi tempat pindahmu yang nyaman.
Percayalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar