Senin, 17 Desember 2012

Terlalu berharap (kamu) pada hujan di bulan Desember ini.


Pagi ini hujan terlihat datang lebih awal. Ah, aku sangat menyukai hujan. Aku adalah sebagian orang yang menjadikan moment hujan sangat berkesan. Setitik demi setitik hujan yang turun itu penuh makna. Bagi sebagian orang, hujan dijadikan sarana untuk menghabiskan waktu dengan orang terkasih, saling menghangatkan satu sama lain. Tapi aku? Hahaha aku sibuk memperhatikan hujan. Tahukah kamu kalau aku berharap (kamu) pada hujan? Tidak, kamu tidak akan pernah tahu.
Siangnya aku habiskan dengan tidur siang. Suara hujan diluar rumah masih terdengar menyapaku dengan hangat. Hujan, aku mau istirahat dulu. Selain hati, tubuhku merasa lelah, sendirian menatapmu. Berharap yang tidak pasti kepadamu. Menantikan dia yang seharusnya menemaniku menatapmu, menantikan dia yang ada disampingku menghangatkanku. Tapi.. kamu sudah tahu jawabannya kan, hujan?
Menarik selimut dan hampir menutupi seluruh tubuhku. Memasangkan dua lembar ketimun dan meletakannya di kedua mataku. Aku tertidur. Hujan, aku berharap kamu diluar sana menyampaikan harapanku kepadanya.
Malam yang tak ku sangka. Aku sedang berada di sebuah coffeeshop pinggir kota, tetap dengan kesendirian dan hanya ditemani oleh laptop yang tidak menyala, sebuah cappucino hangat dan membaca sebuah novel yang baru saja aku beli di toko buku sebelumnya. Gerimis masih terlihat diluar. Sesekali aku menatap keluar, bertanya dalam hati apakah pesanku sudah tersampaikan.
Sampai akhirnya terdengar suara yang menyapaku dengan hangat. Suara yang sudah tak asing bagiku. Suara yang mewarnai hariku, suara yang terkadang membuatku tertawa, suara itu pula yang membuatku bersedih, suara yang kutaruhkan harapan, menjadi kita.
Aku berbalik badan, menatapnya. Bertanya dalam hati, “pesanku sudah sampai?”. Dia tersenyum. hujan mulai turun diluar. Tercium bau khas tanah basah samar-samar menyapa kita. Aku hanya berbicara di dalam hati, “aku menunggumu. Aku berharap kamu dan aku menjadi kita di bulan desember ini. Kamu tidak tahu, kamu adalah alasan utama aku tetap disini, sendiri dan tetap hidup meraih cita-citaku. Kamu terlalu tinggi, terlalu tinggi untuk aku capai. Kamu tahu, sudah berapa lama aku menyerah pada kenyataan? Sudahkah kamu bertanya pada hujan apa saja yang ku harapkan? Apa saja yang aku rasakan? Apa saja yang aku ceritakan padanya tentangmu? Tidak, tentu kamu tidak akan pernah peduli, kan? Kamu saja tidak menyukai hujan.”
Dia membuka percakapan dengan santai. Aku menanyakan sesuatu yang harusnya aku tanyakan daridulu. Aku menanyakan sesuatu tentangnya dengan tidak menyebutkan tokohnya. Aku tahu, kamu tahu tokoh di dalam semua pertanyaan yang aku tanyakan. Aku bertanya akan apa artinya menunggu dan menurutnya tentang menunggu. Dia menjawab dengan serius dan lembut, “kamu lebih baik jangan menunggu kosong. Mengerti?”
Aku terdiam mendengar jawabannya. Aku tahu maksudnya, artinya aku harus pergi meninggalkanmu bukan? Move on. Pindah hati.
Aku tersenyum terpaksa lalu kemudian tertawa. Semoga dia tidak tahu bahwa itu semua palsu, doaku. “sesungguhnya, ada alasan yang membuatku menunggunya. Bukan hanya satu atau dua, tapi tiga bahkan banyak hal yang menjadi alasanku tetap seperti ini.”
“apa alasan utamamu untuk menunggunya?” tanyanya secara hati-hati. Aku semakin yakin kamu tahu siapa tokoh yang aku bicarakan.
“mimpi dan nyata.” Jawabku dengan pasti. Aku menutup mata, aku ingin menangis. Sejak adanya, mimpiku semakin nyata. Tak ada orang selain dia yang membuatku seperti hidup. Seperti berguna. Seperti dialah satu-satunya orang yang berarti dan mengerti. Mengerti? Tidak selamanya mengerti. Toh dia tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Sakit. Menunggu. Menangis. Kecewa. Lagi-lagi seperti itu setiap hari. Bukankah bersamamu itu adalah hal yang membahagiakan? Bukan seperti ini, “itu hidupmu, ini hidupku,” seperti katamu saat itu.
“hal lainnya?”
“ada satu hal yang tidak bisa ku jelaskan. Aku malas untuk menjelaskan. Karena terlalu abu-abu.” Aku kemudian menyeruput cappucino yang mulai mendingin.
Dia diam. Mungkin dia tahu maksudku. Di dalam hati aku ingin memberikannya jawabannya.
“dia bilang aku berharga, dia berharap aku tidak pindah tempat dan hati, dia menahanku, dia menahanku karena perbuatannya dulu kepadaku, perlakuan diatas normal yang dilakukan oleh kita yang menjadi sebuah aib, aku tahu itu akal-akalannya agar aku tidak pergi darinya. Tapi sikapnya beda dengan apa yang dia tuliskan, dia ucapkan, dia harapkan tentangku. Dia abu-abu. Aku tidak tahu apa maunya. Sesusah itukah dia berkata dan bersikap, ya kamu berharga.”
Cappucino sudah aku habiskan. Dia masih terdiam. Aku tahu dia mulai berfikir. Aku menaruh laptop ke dalam tas dan merapikan novelku. Saatnya aku pulang. Aku berdiri dan dia masih menatapku dari tempat duduknya. Aku berkata, “aku sudah berada di titik lelah. Seandainya saja aku tidak pernah bertemu dengannya, mendengar janji-janji kosongnya, tidak pernah menyentuhnya dan memperbolehkannya menyentuhku. Seandainya saja.” Air mataku mulai turun. Aku pergi meninggalkannya. Dibalik hujan aku masih berpikir, “apa susahnya berkata yang sesungguhnya? Apa susahnya kamu percaya hatimu? Berharga? Sama seperti semua kata-katamu dulu, itu semua kosong, tidak pernah terwujud. Tidak ada artinya. Kamu tahu arti berharga? Ya, kamu abu-abu.” Lagi-lagi hujan kembali turun dari mataku.
Aku ingat dia berkata, dia tahu aku. Aku fikir, tidak, kamu tidak tahu aku.
Aku tahu kamu sama seperti lainnya. Kata hatimu aku berharga, tapi pandanganmu tidak. Aku tidak secantik yang lainnya. Ya, kamu sama. Memperhatikan seseorang dari luarnya. Tahukah kamu? Aku tidak pernah sepertimu, memperhatikan luar. Aku menyukaimu karena kamu yang membuatku hidup. Kamu yang menjadi satu-satunya yang berarti. Alasan apalagi yang harus kukatakan? Toh cinta tidak memerlukan alasan. Sampai saat ini aku bingung, bodohnya aku tetap begini. Kamu juga bodoh, karena kamu menjadi alasanku.
Kepada hujan aku kembali berharap, cerita ini segera berakhir. Aku berharap berakhir indah, tapi aku tahu semua keputusannya ada pada dia. Aku ingin teriak, aku ingin berkata sejujurnya. Tapi, hujan melarangku. Dia tahu aku akan kecewa.
Mari kembali ke realita. Hujan dan air mata sekarang yang menemaniku. Menghabiskan hariku yang penuh kekosongan dan kesia-siaan karena menunggunya dewasa.

Jumat, 07 Desember 2012

Finally, I Met Arief Muhammad!


Wohoo!
Lagi-lagi hari ini beruntung! Hari ini Tuhan sayang sama saya! Benar kata Cimol, kalau doa orang baik pasti di dengar. Well, you know what?
YES! I MET ARIEF MUHAMMAD YAKOEB A.K.A POCONGGG!
Tadi siang saya bbm managernya, dan lagi-lagi Cuma di read. Wtf? Tapi tidak patah semangat karena saya langsung sms mas-mas panitia yang kebetulan nyasar di akun pribadiku. Tanya Arief dimana, dan katanya di hotel Pena mas. Hmm.. Terimakasih mas Affa yang belum saya tahu bentuk wujudnya!
Btw, langsung buat kado dadakan. Sambil nunggu kabar temen yang mau nemenin. Well, janjian jam 4 di sekolah. Setelah itu langsung cuss sekolah dan disana malah terjebak hujan. Seriously, terjebak selama satu jam lebih.
Jam setengah 6 baru cus kesana. Dan ternyata? Arief tidak bisa diganggu. Dan kakak Affa bilang kalau Arief lagi di hotel Clarion.. oh my God. Kata kak Cuit ini akal-akalan panitia saja. Tapi kak Cuit curiga karena tadi pagi Arief nge-twipic foto dari atas hotel. Untung, kak Cuit bisa menjadi detektif. Dia melihat gedung UNM dan parkiran yang luas di twitpic Arief. So? Kita langsung cus ke hotel clarion dan naik bentor. Berhubung tidak ada taksi, dan demi Arief.
Sampai disana langsung tanya resepsionis. Nanya nama dari Arief muhammad, poconggg, muhammad arief sampai mas anca ‘casablanca’, tapi tidak ditemukan. Akhirnya bbm mas Ancha lagi. Bilang kalau kita sudah dibawah hotel. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya dibales “lagi diluar nih, beliin arief obat. Dia lagi sakit.” Well, akhirnya kita nunggu.
Selama nunggu juga ga bisa apa-apa. Bb low pake banget. Akhirnya saya memilih jadi fotografer kak Cuit. Sambil sesekali bbm mas Ancha. Kebetulan bb sudah mati jadi pakai punya kak Cuit. Sesekali liat foto mas Ancha dan perhatiin secara baik-baik. “ingat ken, ini mukanya mas Ancha, ingat!” kak Cuit dengan nada agak horor.
“err.. saya ingat ji mukanya kak. Dia kayak mas-mas. Di malamminggumiko juga saya tahu dia.”
Ga lama mas Ancha dateng. Saya mandangin mas Ancha secara seksama, “oh ini mas Ancha?” batinku.
Kak cuit: eh itu bukan sih?
Me: iya! Itu dia.
Me: *berdiri* mas Ancha?
Mas Anca: *merhatiin* ya? *kebingungan*
Me: mau ketemu Arief dong.
Mas: aduh, gimana ya? Arief sakit, dia lagi tidur, belum mandi juga.
Me: gapapa deh! Bentar doang.
Mas: hmm.. ada pin bbm kan?
Me: iya. Tapi arief ga punya..
Mas: ...
Me: gimana? Nanti bisa kan ngobrol-ngobrol?’
Mas: mau ngobrol apa?
Me: mas, ketemu dong ya?
Mas: tunggu ya. Tanya arief dulu.
Me: oke. Aku tungguin disini. Nih kadonya sekalian titipin ya.
Mas: siap.
Sampai akhirnya nunggu sampai beberapa anak armuhfcmks yag ikut dateng. Disitu nunggu sampai jam 9 dan bb sudah mati total. Ga lama kemudian ditegur sama 3 cewek. Kirain anak armuhfcmks ternyata.. AFGANISME. Yaa Allah baru tau ada afgan sehotel sama arief. -_-
Mereka ceritalah kalau dari pagi sudah di hotel. Mereka sempet lihat Arief, kata mereka “sumpah, arief ganteng abis.” Tapi mereka Cuma lihat dia lewat ga mina photo. Krik, krik. Dan disitu juga kita di ajari untuk biasa, selow kalau mau dapet ketemu arief. Kebetulan nemu charge dan ya numpang charge. Alhamdulillah. Kebetulan janjian sama kak Nandar mau sama-sama pergi dan nelponin dari tadi tapi bb off. Terus si mantan terabsurd juga sms nanya-nanya kepo itu. Duh. Pembicaraan terabsurd terukang lagi sama dia. (--,)
Pas jam 9 beneran dia keluar. Dan ya, gantengnya masyaAllah. Oke saya norak dan sebodo.
Saya ngelambain tangan, “Rief.. Arief..”
Dia dateng dan ngobrol. Saya minta foto. Tapi kenalan dulu.
Me: *salaman* nicken.
Arief: arief.
Kak cuit: anty
Arief: arief
Arief: *salaman sama temen yang lain* justin bieber, arief, justin bieber.
Me: (--,)
Me: foto dong! foto dua kali ya?
Arief: boleh.. boleh..

Me: satu lagi gaya alay dong
Arief: kayak gimana?
Me: ...

Sudah cukup alaykah kami? -_-
Terus ganti-gantian minta foto. Sampai akhirnya mas Ancha nyuruh foto rame-rame. Dan badan arief hampir ketutup.
Me: arief ga keliatan nanti! Dia kan pend.. oke foto!
Tapi fotonya ada di kamera lain. Fufufu
Lalu saya ngikutin arief, “rief, minta vn dong! Buat iMuv. Lo tau kan iMuvoners?”
“bilang apa? Bilang apa?” dia meraih hapeku dan berbicara apa yang saya suruhkan. Thanks, Rief. Sudah membuat saya dan iMuv senang. Ini kado buat mereka. :*
Akhirnya, saya keluar lari dan buru-buru nyari taksi. Setelah di dalam taksi saya bilang kalau mau ke hotel pena mas. Karena helm ketinggalan disana. Saking senengnya tahu Arief dimana sampai lupa helm. pffft
Terus di dalam taksi juga ketawa-ketawa ga nyangka apa yang terjadi. Perjuangan dari tadi sore tidak sia-sia ternyata..
Sampai di unifa, langsung dikasih gelang invitasi yang udah disimpankan sedari awal. Saat itu juga ketemu sama temen satu sekolahan, cowok. Langsung nunduk, pura-pura ga lihat.
Masuk langsung duduk dibawah ditemenin sama temen-temen kak Cuit. Salah satu dari mereka ada yang nyeletuk, “tawwa lincahnya di’?” “oh, ini namanya nicken?” saya yang mendengar namaku disebut langsung balik dengan tatapan bingung. Dia langsung tersenyum dan bilang, “kamu di mention Zahra, nda soal Arief?” saya lalu menjawab, “iya, sudah mentionan.” Saya heran, darimana dia tahu saya dan kak Za. Sepertinya sih mereka anak Radivers juga.
Terus saya maju duduk ke depan dan siapin kamera pas Arief keluar. Semuanya jerit-jerit. Saya? Malah senyum-senyum saja. Kan udah ketemu duluan. :p
Terus ada sesi tanya jawab, tanpa malu-malu ngacungin tangan dan natapin mcnya. Eh kepilih. Beruntung! Sampai di atas panggung, Arief dan mcnya ngelawak. Saya bingung mau apa. Dalam hati ngebatin “kak.. arief.. kak.. anu.. imuvoners.. anu armuhfcmks.. anu.. kakak yang pernah kepencet follow saya dari akun poconggg itu..” tapi tertahan.si Ai mencoba menggombali saya.
Mc (Ai) : Papa kamu..
me: ...
Arief: Gue gak suka kalo ada orang yang nanya dan bawa-bawa nama bapak si cewek. Coba pikirin, gimana kalo dia anak yatim? Lo bukannya berhasil ngegombal, malah bikin dia sakit hati.
me: *disamping kiri dadah* no.. no.. papahku masih ada, enak aja!
 ini nih orangnya kak Ai dan Arief, kalau ketemu tolong santet ya. *eh
akhirnya sesi tanya jawab dimulai..
Mc: mau nanya sendiri atau lewat saya?
Me: sendiri!
Mc: namanya siapa?
Me: nicken!
me: ga boleh nanya macem-macem ya?
Mc: ga boleh nanya macem-macem.
Me: hm. Apa hubungannya sama..
Mc: micnya dipakai dong.
Arief ngambil mic lalu mengarahkan mic ke saya. “gini nih dipakai.” Sambil tertawa.
Me: iye iye kak.
Me: apa hubungannya sama tasya? Jangan bilang php, kasian lho..
Arief ngejawab dan saya malah merhatiin dia dari samping. Sumpah, kok ganteng ya ini orang? Baik banget lagi. Gitu-gitu terus sampai selesai dia ngejawabnya.
Mc: nah udah kan?
Me: foto dulu!
Mc: sini.
Me: *ngerangkul arief*
Penonton: *nyorakin*
Mc: lah kok ngerekam?
Me: hah? Bentar sini.
Arief: nanti lagi ya fotonya.
Me: enggak! Harus foto dulu!
Me: *ngerangkul arief lagi*
Penonton: *nyorakin*
Me: *senyum penuh kemenangan*

Me: okay, terimakasih kak. Salaman dulu. *cium tangan*
Arief: gue kayak orang tua ye, pake disalamin.
Lalu saya kabur sejauh-jauhnya karena malu.
Arief sekitar hampir sejam cuap-cuap diatas. Saya masih ketawa-ketawa geli sama kak Cuit dan teman-temannya.
Sampai selesai dia pulang, akhirnya ada yang mencolek. Yap, he is Kak Nandar. Saya langsung minta ijin pulang sama kak Cuit. Karena udah kemaleman juga.
Sambil jalan keluar cerita bentar dan saya menemukan sosok yang tak asing lagi. Yap, Agen terbaik!
Saya hafal baju yang ada di dalam foto yang ia kirimkan sewaktu bersama mbak Dee. Tapi, saat itu saya tiba-tiba malas buat ketemu. Dia bersama teman-temannya dan mau keluar entah apa. Seperti mendengar toilet dan Arief. Saya memilih sembunyi di belakang tubuh tinggi kak Nandar. Si Agen pergi, baru saya keluar. Entahlah, saya seperti malas dengannya. Hanya capek ingat ketidak jelasannya.
Sampai diluar baru cerita ke kak Nandar kalau tadi ketemu teman. Dan dia curiga nanya ini mantanlah, pacar, atau apalah. Saya hanya tertawa mendengarnya. Dalam hati, “dia abu-abu”.
Keluar ambil helm dan mencari motor. Mana motornya? Dia tersenyum dan menunjuk mobil. Ya, katanya boncengan ternyata bawa mobil. Di dalam mobil tertawa-tawa, sebetulnya saya sih yang cerewet. Kadang juga hening kepikiran Agen tadi. Tapi, sepertinya ini fase yang baru dalam kak Nandar. Well, i know he loves me. Kalau tidak, ngapain dia bela-belain ke acara itu ngejemput saya saja? Lumayan juga pengorbanannya..
Btw, saya masih dalam fase galau dan senang. Galau entah maunya apa. Hanya Putri Rezky Fitriana yang tahu apa yang saya rasakan. Senang? Cita-cita sudah tercapai “nyenengin iMuvoners”. Kadoku kali ini hanya vn, suatu saat kita kumpul semua bareng Arief ya. Happy anniv yang ke 1 iMuvonersku. I love you all. Terimakasih buat hari ini, kak cuit, kak mels, teman-teman @armuhfcmks. Special buat mas Ancha, jangan pelit-pelit lagi ya jadi manager haha dan juga calon pacar tertunda(di dunia khayal) Arief Muhammad aka @Poconggg. I’ll miss that moment.
Okay, see yaa guys soon!

Sabtu, 01 Desember 2012

kita dan perbedaan


Sebentar lagi natal akan tiba.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Sudah berapa ratus hari yang sudah kita lewati, sayang?
Aku memang tidak ikut merayakan natal, tapi aku akan kembali ikut merasakan suasana yang sama seperti dahulu. Saat natal kita bersama, tertawa dan berpelukan. Bergabung dengan keluarga besarmu. Begitu bahagia berada di antara kebahagiaan keluarga besarmu itu.
Bulan depan adalah bulan Desember, tapi suasana natal sudah mulai terasa. Maukah kamu tahu apa yang membuatku merasakan damai itu semakin dekat kedatangannya?
Hujan.
Iya, hujan telah datang lebih awal. Aku kembali mencium harum tanah basah karena hujan. Bukankah ini juga kesukaan kita sewaktu dulu? Sewaktu pertama kali kita mengikat janji untuk bersama selamanya? Bukankah kamu yang memberitahuku bahwa tanah basah itu adalah kesukaanmu? Tahukah kamu setiap aku mencium tanah basah aku selalu mengingatmu?
Ah, damai itu akan terus bersama kita. Bukankah begitu? Sudah berapa detik yang sudah kita lewati? Sudah berapa kali kesalah pahaman yang pernah terjadi diantara kita? Sudah berapa kali kita saling mengikatkan kelingking kita dan saling berminta maaf? Sudah berapa kali kamu memelukku dengan erat dan mengusap rambutku? How sweet you are.
Yes, you are my boy.
Tahukah kamu apa yang membuatku khawatir saat ini?
Kita.
Aku takut akan kita di masa depan. Aku takut di masa depan kamu tidak mengikatkan kelingking denganku lagi, mengusap rambutku dan menyanyikanku lagu-lagu yang membuatku semakin tenang di pelukanmu.
Semuanya terlihat baik-baik saja saat ini, tapi aku masih takut dengan masa depan. Siapa yang tahu kalau kita berjodoh dan saling mengucapkan sumpah sehidup semati?
Hanya Tuhan yang tahu. Hanya Tuhan yang mengatur kehidupan kita.
Aku masih takut.
Agama. Apakah perlu kita menyalahkan agama? Agama kita berbeda, mungkinkah kita masih bisa bersama? Akankah kita bisa mengucapkan janji sehidup semati nanti?
Ah, aku masih takut terlalu jauh memikirkan tentang ini.
Tapi, pertanyaan ini masih terus berputar di kepalaku.
Ataukah kita harus mengalah pada keadaan ini?
Akut takut. Takut dan selalu bertanya dalam hati ketika aku bersamamu. Kamu sibuk bercerita yang selalu membuatku tertawa mendengarnya. Tapi, aku kadang sedang berpikir saat itu, “masihkah kita bersama nanti? Masihkah kamu membuatku tertawa seperti sekarang ini? Masihkah.. masihkah..”
Kamu selalu mengatakan bahwa kamu dan aku akan berjuang untuk hari esok. Impian, cita-cita dan KITA. Kamu sadar keadaan ini, kamu tentu merisaukan ini. Aku tahu itu, sayang.
aku untuk kamu, kamu untuk aku. Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda? Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi.”
Sepenggal lirik lagu Marcell berjudul Peri Cintaku itu membuatku semakin bertanya-tanya. Ah, aku kembali takut dengan keadaan ini. Iya, maafkan aku yang kembali merisaukan ini. Harusnya aku segera berhenti dan berpikir positif tentang kita. Aku tahu kamu telah lelah menenangkanku, telah lelah menyuruhku berhenti berpikir ini, telah lelah menyuruhku berhenti disini. Mengakhiri hubungan kita.
Tapi, aku masih mencoba bertahan dan berjuang untuk Kita. Masih maukah kamu berjuang untuk kita? Aku masih yakin kepada Tuhan yang mengatur segalanya.
Berhenti. Berhenti untuk menyuruhku berhenti dan mengakhiri hubungan ini. Berhenti berusaha tegar dan terlihat baik-baik saja. Aku masih yakin kamu bisa, aku yakin kita masih bisa.
Bukankah begitu yang kamu bilang?
Dan disini, aku mencoba berhenti bertanya dan kembali mengambil hikmah positif dari masalah kita yang berbeda agama. Kita semakin saling yakin dan percaya dalam keajaiban.
Tuhan mungkin sedang mempersiapkan cerita indah untuk kita. Aku masih percaya itu. Aku percaya kamu juga memikirkan hal yang sama.
Ah, sekarang kamu berada disampingku. Bangku kanan. Aku menyenderkan kepala dibahumu lagi, kamu bernyanyi dan mengusap rambutku sesekali. Kita sama-sama tersenyum.
Tuhan, betapa beruntungnya aku memiliki lelaki seperti dia. Kado terindah untukku saat ini, dan mungkin kado terindahnya di saat natal nanti.
Merasakan kembali damai bersamanya. Ah, aku makin mencintainya. Sekali lagi, terimakasih Tuhan.
Selamat menantikan natal. Kedamaian akan selalu bersamamu. Bersama kita.

pengagumku?


Hari ini masih seperti biasa, mengulangi ucapan yang sama “sebodo sama dia”.
Sampai saat ini saya masih dalam tahap mewujudkan kalimat tersebut. Yang saya tahu adalah saya sudah bisa sedikit bahagia. Saya menemukan kembali kehangatan kelas. Mungkin saya tahu kenapa kehangatan itu ada. Tapi saya tidak ingin menceritakannya apakah permasalahannya.
Hari ini, hari kamis dan saya belajar seperti biasa. Teman-teman banyak yang tidak masuk, terutama laki-laki. Karena mereka akan bermain futsal pukul 2 siang nanti. Dan karena sekolah pulangnya diatas jam 2, jadi mereka memilih tidak masuk.
Selesai jam kedua, masuk jam ketiga yaitu pelajaran matematika dan kebetulan pak Mul tidak masuk. Rasanya? Sangat bahagia. Teman-teman bisa bernafas lega. Ya, pak Mul adalah salah satu guru yang cukup membosankan. Bagaimana tidak, kalau dalam seminggu bertemu selama 3 hari berturut-turut.
Saat itu saya sedang duduk di belakang bersama teman-teman saya bernama Opy, Puput, dan Uni. Kebetulan kami masih menempati (numpang) di lab matematika karena kelas sedang direnovasi. Kami duduk dibelakang dekat pintu kelas. Tak lama kemudian..
“Ken, balikko bede’!” Uni menyuruhku berbalik.
Dan ya, disana ku lihat dia yang sedang berjalan, dia adalah orang yang menurut gosip adalah pengagumku. Iya, dia menyukaiku.
Saat itu masih teringat saat sedang asyik-asyiknya bercanda dengan teman, dan dia sedang bersama teman cowok di ips dan tanpa sengaja teman cowokku menabrakkan tangannya ke kepalaku. Lalu teman-temanku dan teman cowokku mengusap kepalaku dan meminta maaf. Disana dia berdiri bersama Uni. Lalu dia pergi bersama teman cowokku.
Lalu Uni bilang kalau dia menitip salam denganku. Aku tertawa tidak percaya. Bisa-bisanya perempuan sepertiku yang tidak cantik, pintar bahkan terlihat seperti orang absurd begini disukai lelaki? Kupikir dia sedang khilaf.
Mari perkenalkan dia, saya samarkan namanya menjadi Alul. Ya, Alul adalah anak kelas 3 seangkatan denganku. Dia adalah tetangga samping kelasku. Dia anak ipa. Berbadan tinggi, putih, berbehel, seperti typeku. Masih tidak percaya saja saya mempunyai pengagum. :))
Ah, lupakan saat itu. Mari melanjutkan cerita.
Setelah itu Uni, Opy dan Puput berteriak memanggilnya.
“Alul, Alul, kesiniko duleeee.”
Saya masih diam dan mengerutkan kening.
“iya, kenapa?” deg! Dia beneran kesini dan tersenyum berdiri di depan kelas.
“Nicken, Alul. Kau suka ini? Nicken?” Puput tanpa basa-basi langsung menuduhku. Mampus.
Dia tersenyum, sedangkan saya yang sedari tadi bermain hape lalu membuka suara, “ah, apaan sih ini?”
Tak lama dia membalasnya, “haha, iya saya suka.” Tanpa malu-malu dia berkata seperti itu, dia tersenyum lagi. Deg! Mati aku, mati.
“cieee nicken diakuin Alul.” Teman-temanku yang berada dikelas semua pada meneriaki ku. Duh. Gusti, ini apa-apaan.
Dan kemudian dia pergi meninggalkan kelasku. Entahlah, saat itu saya mulai meresponnya. Sepertinya saya menyukainya, kagum lebih tepatnya.
entahlah, saya selalu menemukan orang yang menyukai saya entah karena apa. tapi biasanya mereka adalah kalau bukan orang yang absurd, ya orang yang sudah berpacar. well, saya tidak ingin menjadi perusak hubungan kembali.
Saya bercerita ke sahabat saya, Putri dan Kadit. Dan mereka berpendapat yang sama, “kalau ada yang lebih cakep, kenapa tidak? Tidak php pula. Daripada menunggu sama si ‘abu-abu’ itu yang semakin tidak jelas dan Cuma membuat kamu nangis? Lebih baik kamu bersama Alul. Saya berdoa untukmu. Saya setuju kamu sama dia daripada si abu-abu itu.”
Ya, saat ini kedua sahabat saya tidak menyetujuiku untuk tetap bertahan menunggu si abu-abu alias Agen terbaik. Alasan mereka sama: tidak jelas dan Cuma buat sakit hati.
Ya, entahlah. Saya masih menunggu cerita. Saya tidak lagi menunggu si abu-abu, saya menunggu cerita baru. Bersama Alul, mungkin? Mari kita lihat kebaikan dan cerita baru apa yang akan terjadi..